What I Know Now…
October 7th, 2007 by bapakubukankoruptorHidup itu bagai sebuah buku. Sebuah novel. Yang kisahnya tak ditulis dengan gerakan tangan maupun lewat goresan pena. Tetapi dengan hati, perasaan, akal dan jiwa.
Saat si penulis hendak menulis perjalanan hidupnya; lembaran pertamanya putih dan bersih. Siap diisi. Ketika hari dan tahun berjalan, buku itu akan mulai terisi sendiri dengan kisah sehari-hari hidupnya. Kadang tulisan dan gambarnya rapi tertata, kadang kacau-balau tak menentu, kadang tercabik-cabik layaknya pakaian seorang pengemis. Kadang membiru saat si penulis sedang sendu, memerah jika sedang jatuh cinta atau penuh riuh bertabur pelangi saat ia sedang gembira.
Lalu waktu berjalan tiada henti. Setiap mengakhiri sebuah keping dari hidupnya, berakhir pula lah sebuah babak cerita. Halamannya berganti, dan kisahnya lanjut dalam babak baru, yang membuat buku itu bertambah tebal. As kids, GIRLS especially, kita selalu percaya jika kita terluka dan menangis selalu ada peri-peri penolong atau mainan atau baju baru yang akan menyelesaikan semua masalah—–A magical fairy who can make it all better. Mungkin itulah wujud solusi bagi banyak wanita yang hadir setiap harinya yang membentuk gambaran dari wajah perempuan negeri ini. Jika kepala kita sakit, we would grab a pill to get rid of the pain. In the same way, when we feel emotional pain, we have been led to believe that a relationship will cure it. Often we hear people saying things like, "What she needs is a nice man to take care of her".
Tetapi jika mata kalian betul-betul terbuka berapa banyak wanita yang menyimpan deritanya dengan rapi, membungkusnya dengan tawa, memolesnya dengan senyum, memastikan tidak terjadi apa-apa dalam hidupnya. Disela-sela kesibukannya, berapa banyak diantara kaum hawa yang berpedoman, mencatat, bahkan menghafal ‘mati’ jurus-jurus sakti yang tertulis pada majalah maupun buku, layaknya sebuah kitab, wich they led to believe will ‘guarantee’ true love and a perfect relationship. As if everything could be solved by a good shag!. Many of us been programmed to believe that marriage and a shared home and shared dreams are ultimate aims of any intimate relationship, and if we don’t reach these goals the relationship has failed. Yet almost half of all marriages are destined to end long before the grim reaper in and tears our own emotion apart. In fact, memikirkannya sekarang justru memberinya kesekpatan bermetamorfosis menjadi beban yang membuat langkah semakin berat. Ada banyak orang yang memeilih untuk menjalankan hidupnya dengan cara lain dan menemukan kebahagiaannya, memilih perceraian dikaranakan sang suami yang kerap menganiaya, berpolygami, enjoying their one night stand session, choose casual dating instead ad a long term relationships, decides to never marry, sharing homes with the same sex friend, and they are immensely happy.
Kehidupan akan terus berjalan, dan lembarannya harus tetap dilanjutkan. Babak itu tak akan pudar kilaunya. Kisah dan warna indahnya akan tetap tersimpan di halamannya, terjalin kuat menjadi bagian dari sebuah buku, bersatu dengan babak-babak yang pernah terkisah sebelumnya. Kamu kan tetap ada disana. Siap menanti aku -pemiliknya- untuk membolak-balik kembali lembarannya. menertawakan yang lucu, merenungkan seribu pelajaran, atau mensyukuri tercapainya tak hanya sebuah tapi berderet cita-cita. There are many route to happiness. And we are all unique and we all need to find our own way there. After all happiness is not a destination , but it is a journey. Saya tahu, perjalanan belum berhenti. Kelak, saya akan kembali menengok ke belakang, dan melihat sebuah cermin besar dimana ada saya di situ. Saat waktu itu tiba, semoga saya bisa melakoni perjalanan dengan menjadi pribadi yang tak henti mengambil hikmah dari kehidupan dan terus bersyukur atas beragam karunia.
Semoga…